Rabu 06/05/2026 00:00 WIB |
oleh
RS Jogja
Ahli Gizi RS Jogja Sharing Gizi Seimbang untuk Lansia
Ahli Gizi RS Jogja Sharing Gizi Seimbang untuk Lansia YOGYAKARTA – Ahli Gizi RS Jogja, Erma Fitriana, A.Md.Gz (Erma) dan Maulinda Rayhana Khusnawati, A.Md.Gz (Khusna) melakukan sharing tentang gizi seimbang untuk lansia. Sharing ini disampaikan dalam edukasi kesehatan kepada pasien dan pengunjung RS di ruang tunggu poliklinik pada Rabu, 6 Mei 2026. Erma mengawali sharingnya dengan batasan lansia dimulai dari pra lansia 9 (usia 45 – 59 tahun), lansi (60 -75 tahun), lansia tua (75 – 90 tahun) dan umur panjan (diatas 90 tahun). Selanjutnya disampaikan pentingnya gizi seimbang pada lansia dikarenakan lansia berisiko mengalami malnutrisi akibat proses perubahan kondisi fisiologis. “Karena inilah alasan mengapa lansia perlu asupan gizi seimbang meliputi unsur karbohidrat, protein, gula, garam dan lemak, terang Erma. Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari – hari yang memenuhi kebutuhan zat gizi tubuh melalui makanan beragam, aktivitas fisik, perilaku hiduip bersih dan pemantauan berat badan untuk menjaga berat badan normal serta mencegah masalah gizi, lanjutnya. Secara detail Khusna melanjutkan sharing dengan menjelaskan gizi seimbang untuk panduan konsumsi sehari – hari bagi lansia. Pondasi energi bersumber pada karbohidrat dengan saran konsumsi 3-4 porsi sehari, kemudian sayuran dan buah – buahan sebagai sumber serat, vitamin dan mineral dengan 2 – 4 porsi sehari. Kemudian, sebagai zat pembangun sel tubuh, perlu konsumsi protein 2 – 4 porsi sehari baik dari proten nabati maupun protein hewani. Sedangkan kelompok makanan terakhir yang dibutuhkan tetapi harus dibatasi karena berisiko memicu penyakit tidak menular adalah gula, garam dan lemak. Konsumsi gula maksimal 4 sendok makan sehari, garam maksimal 1 sendok the sehari dan lemak maksimal 5 sendok makan sehari. “Selain susunan gizi seimbang tersesbut, ada komponen pendukung gizi seimbang yaitu konsumsi air putih setidaknya 8 gelas perhari, menjaga kerbersihan tangan, aktifitas fisik teratur dan memantau berat badan”, ujar Khusna. “Kesulitan makan yang sering dialami lansia dikarenakan kehilangan gigi dan menurunnya produksi air liur, berkurangnya sensitivitas indera pengecap, pencernaan yang buruk akibat berbagai hal seperti pola makan tidak terayur, kurang serat, kurang cairan, stress, kurang tidur dan kurang aktifitas fisik”, tambahnya. Khusna menambahkan pesan sebelum mengakhiri sesi sharingnya, aktifitas fisik bagi lansia disarankan sesua dengan kemampuan fisiknya, terpenting dilakukan secara rutin dan konsisten. (SKS).