Senin 11/08/2025 00:00 WIB |
oleh
RS Jogja
Optimalkan KIE: RS Jogja Sharing Kewaspadaan Ancaman Malaria
Demi mengoptimalkan upaya Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), RS Jogja sharing tentang kewaspadaan ancaman malaria. kegiatan KIE ini dilaksanakan pada Senin, 11 Agustus 2025 di ruang tunggu poliklinik RS Jogja. Sharing ini menghadirkan dr. V.Noegroho Isti D, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam bersama promotor kesehatan RS Jogja, Setyo Hartono. "Yogyakarta identik dengan kota budaya, kota wisata dan kota pelajar. Selain itu belum lama ini Kota Yogyakarta ditetapkan sebagai Ibukota Budaya Indonesia periode 2025 - 2026", ungkap Setyo mengawali sharing ini. Hal ini memungkinkan banyak sekali orang dari mana saja yang akan berkunjung ke Kota Yogyakarta, artinya akan ada risiko penularan penyakit ataupun munculnya kasus malaria, imbuhnya. Selanjutnya, dr. V. Noegroho Isti D, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam menyampaikan banyak hal seputtar malaria. "Malaria itu masih ada di Indonesia dan harus diwaspadai karena beberapa kasus dapat menimbulkan komplikasi yang serius dan berat", tutur Noegroho. Lebih lanjut Noegroho menjelaskan bahwa malaria disebabkan oleh parasit plasmodium malaria dengan berbagai jenis, ada malaria tropikana, tertiana, dan malariae yang dibawa oleh nyamuk Anopoles. Penularannya melalui gigitan nyamuk Anopeles yang membawa parasit penyebab infeksi. Berbeda dengan nyamuk demam berdarah yang menggigit di pagi atau siang hari, nyamuk anopeles menggigit di waktu malam hari, ujarnya. Ada beberapa langkah pencegahan terhadap malaria. Pertama, Awareness (kesadaran), penting untuk mengetahui risiko malaria di daerah endemis yang kan dikunjungi. Kedua, Bites prevention (pencegahan gigitan) dengan pemakaian kelambu saat tidur, penggunaan baju panjang yang menutup semua tubuh dan pengguanaan obat nyamuk. Ketiga, Chemoprophylaxis (kemoprofilaksis), konsultasikan dengan dokter penggunaan obat - obatan yang dapat mencegah terinfeksi malaria selama berkunjung ke daerah endemis malaria. Keempat, Diagnosis (diagnosis dini dan pengobtan), jika muncul gejala setelah kunjungan ke daerah endemis segeralah periksa ke dokter dan informasikan riwayat perjalanan. Diagnosis dini dan pegobatan yang cepat penting guna mencegah komplikasi dari malaria, "Ingat trias gejala malaria, pertama panas tinggi (demam) sampai menggigil, kedua berkeringat dingin dan ketiga keluhan pusing", tegas Noegroho. Jika trias gejala ini muncul segera periksa kedokter dan cek darah guna memastikan diagnosis malaria. Perlu diketahui kalau masa inkubasi malaria berbeda dengan demam berdarah, setelah digigit nyamuk anopeles, parasit akan masuk berkembang biak dan menyerang sel darah merah hingga muncul gejala setelah 10 - 14 hari bahkan beberapa bulan setelah gigitan", terangnya. Untuk itulah, kewaspadaan terhadap ancaman malaria perlu ditingkatkan, terlebih malaria bisa menginfeksi siapa saja bahkan bisa juga menginfeksi bayi, ungkap Noegroho diakhir sharingnya. (SKS).