Menuju Smart City, Pemkot Tanda Tangani MoU Dengan PT IBM

Pemkot Yogya terus berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Berbagai terobosan pun dilakukan guna mewujudkan pelayanan yang efektif dan efisien, salah satunya dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sejalan dengan perwujudan Kota Cerdas (Smartcity).

Keseriusan Pemkot Yogya ini di tuangkan dalam penandatangan nota kesepahaman (MOU) dengan PT IBM Pagi hari ini, Jumat (16/9). Penandatangan MoU ini dilakukan dalam rangka mewujudkan Kota Yogya menuju Smart city dengan salah satu pondasinya e-government.

Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menyampaikan bahwa sistem smart city dapat mengubah pola pelayanan kepada masyarakat sehingga tidak ada lagi cara konvensional di mana ada pertemuan antara petugas dan masyarakat.

Menurutnya, cara konvensional tersebutlah yang riskan terjadi kesalahan, penyimpangan, dan  membuat pembangunan tidak optimal.

“Selain itu agar dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pembinaan serta pelayanan kepada masyarakat melalui pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi “ katanya.

Ia mengungkapkan bahwa Smart City memang diperlukan dalam upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan mempercepat pelaksanaan pembangunan Kota  Yogya.

Pengembangan smart city di Kota Yogya diharapkan juga dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada maayarakat. Apalagi saat ini perkembangan teknologi semakin memperlihatkan kemajuannya.

Hal tersebut tentu sesuai dengan misi Pemkot Yogya yakni mewujudkan masyarakat Kota Yogya yang sejahtera dan bermartabat berbasis pelayanan prima.

Sementara itu Ronny Sumantri, Country Manager Comms PT IBM Indonesia mengatakan Konsep smart city sendiri pertama kali dikemukakan oleh IBM. Perusahaan ini memperkenalkan konsep smart city untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.

“Untuk menyukseskan konsep kota pintar ini, IBM mengeluarkan enam indikator yang harus dicapai. Keenam indikator tersebut adalah masyarakat penghuni kota, lingkungan, prasarana, ekonomi, mobilitas, serta konsep smart living” katanya.

Dengan mengoptimalkan keenam indikator tersebut, lanjutnya, konsep smart city bukan lagi sebuah wacana belaka. “Namun, perlu diingat, keenam indikator ini bisa lebih difokuskan atau dimaksimalkan salah satunya” ujarnya.

Ia memberi contoh, kota Copenhagen. Kota yang ada di Denmark. Di Kota tersebut mereka memfokuskan diri untuk pengoptimalan bidang lingkungan.

“Karena hal ini, Copenhagen dianggap sebagai salah satu kota pintar di dunia, selain itu predikat smart city juga dimiliki oleh Seoul. Ibu Kota Korea Selatan tersebut fokus pada pelayanan publik pada bidang teknologi informasi. Tidak aneh jika kota ini memiliki jaringan internet tercepat di dunia” terangnya.  (Han/Tam)