Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Yogyakarta Targetkan Satu Kelurahan Satu Kampung Iklim
Pemerintah Kota Yogyakara (Pemkot) menargetkan setiap kelurahan memiliki satu kampung iklim. Langkah itu untuk mewujdukan kampung-kampung di Yogyakarta agar memiliki ketahanan tinggi terhadap resiko perubahan iklim dan mampu melaksanakan usaha adaptasi dan mitigasi menghadapi perubahan iklim global. "Program Kampung Iklim adalah usaha dalam rangka mengatasi permasalahan yang meliputi banjir, genangan ari, kebersihan dan penglolaan limbah," ucap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta Suyana saat sosialisasi Prokim di Ruang Bima Kompleks Balaikota Yogyakarta, senin (23/4). Suyana menjelaskan Program kampung iklim adalah gerakan nasional pengendalian perubahan iklim berbasis komunitas oleh kementerian lingkungan hidup. "Kampung iklim dibangun di tingkat RW dalam rangka penyesuaian dan penurunan perubahan iklim secara kesinambungan," jelasnya. "Di Kota Yogyakarta baru ada satu kampung iklim yakni di RW 08 Pandeyan. Dan kedepan akan kami dorong setidaknya satu kelurahan memiliki satu kampung iklim," kata Suyana. Dalam kesempatan yang sama Asisten Deputi Adaptasi Perubahan Iklim Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLH Sri Tantri Arundati menjelaskan, program ini merupakan upaya KLH guna mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam melaksanakan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Menurutnya Kementerian Lingkungan Hidup akan terus memutakhirkan data kerentanan wilayah. Upaya ini akan terus dilakukan agar upaya adaptasi bisa dilakukan, mengingat frekuensi bencana terkait iklim dan cuaca makin sering terjadi. "Di Yogyakarta proporsi jumlah tingkat kerentanan di seluruh kecamatan mencapai 45 kampung. 15 kampung diantaranya dalam kategori sangat rendah, sementara 30 kampung lainya dalam kategori sedang," paparnya. Pemerintah menargetkan adanya 1.000 kampung iklim di Indonesia hingga 2020 mendatang. Dengan melakukan sosialisasi dan mendorong daerah untuk segera melakukan upaya pembentukan Prokim dan kemudian diusulkan ke Pemerintah. Sementara itu Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyambut baik Program Kampung Iklim. Ia menilai langkah tersebut patut dilakukan menyusul kondisi perubahan iklim global yang belakangan ini sangat ekstream. "Pemerintah Kota tengah berupaya untuk memperbanyak ruang terbuka hijau (RTH). Saat ini luasan RTH di Kota Yogyakarta baru mencapai angka 17%. Pemkot berusaha untuk menambah 13% lagi sehingga total 30% sudah layak untuk Kota Yogyakarta," jelasnya. Ia meminta kepada seluruh OPD khususnya Kelurahan untuk sedini mungkin melakukan penguasaan lahan-lahan kosong sehingga nantinya bisa diusulkan untuk dilakukan pembeliaan. "Kedepan juga akan dilakukan penyederhaan predikat agar lebih fokus dan terarah, saat ini total sudah ada 28 predikat dan nantinya disederhanakan menjadi lima predikat saja berdasarakan kategori fisik, lingkungan, sosial, budaya dan pariwisata," papar Heroe. (Tam)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Senam Masal Kegiatan Non Fisik TMMD Reguler ke-101 Di Gambiran Dibuka Wakil Walikota Jogja
Wakil Walikota Drs. Heroe Poerwadi, MA, membuka acara senam sehat masal dalam rangka kegiatan non fisik TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) reguler ke-101 Kota Yogyakarta di wilayah Gambiran Pandeyan Umbulharjo, Minggu, (22/04/2018) pagi. Senam masal yang diikuti oleh ratusan warga itu dikomandani oleh Komandan Kodim 0734 Yogyakarta, Kol. Inf. Rudi Hermansyah dan semua Danramil sekota Yogyakarta. Wakil Walikota Heroeo Poerwadi mengajak warga masyarakat kota Yogyakarta untuk selalu membangun pola hidup sehat dan bersih dengan berolahraga dan senam bersama maupun sendiri sendiri. Kegiatan senam bersama juga memiliki arti penting karena selain menjadikan sehat dan bugar, kegiatan senam juga dapat menjadi ajang silaturahmi antar sesama warga. Wakil Walikota mengatakan mengapa kota Yogyakarta selalu nyaman, hal ini karena warga Yogyakarta memliki sifat guyub, rukun dan selalu berkumpul bersama. "Karena itu usia harapan hidup di kota Yogyakarta lebih panjang dari wilayah lain. Karena sering bertemu dan berkumpul seperti halnya senam bersama, atau kegiatan lain di wilayah ini menjadikan kita semakin guyub, senang, gembira terus. Disitu kita terus jaga tali silaturahmi kita," ujar Heroe. Heroe berharap kegiatan yang digagas jajaran Kodim 0734 ini semakin meberi manfaat bagi warga masyarakat dan menjadi tali manunggalnya TNI dan Warga masyarakat. "Semoga kegiatann senam ini dan kegiatan TMMD lainnya dapat mengikat kuat jajaran TNI dan warga khususnya warga di wilayah Pandeyan Umbulharjo dan Kota Yogyakarta semuanya," tambah Heroe. Sementara itu Dandim 0734 Yogyakarta, Letkol Inf Rudi Firmansyah, S.E.M.M menjelaskan kegiatan di Minggu pagi itu merupakan salah satu kegiatan non fisik TMMD reguler ke-101 tahun 2018. Selain senam sehat juga diadakan lomba senam Maumere untuk komunitas senam yang ada di kota Yogyakarta. Pemenang akan mendapat hadiah menarik. (@mix)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Peserta Raker Komwil III Apeksi Menyusuri Sudut-Sudut Kuno Kotagede
Di hari ketiga Rapat Kerja Koordinator Wilayah III Apeksi 2018, peserta diajak Walikota Yogyakarta menyusuri sudu-sudut kuno Kotagede, jum"at (20/4). Dimulai sejak pukul sembilan hingga menjelang dzuhur peserta begitu antusias dan terkesima dengan keunikan Kotagede sebagai salah satu wilayah tertua se-Yogyakarta. Blusukan dimulai dari dalem sopingen yang letaknya tidak jauh dari pasar legi kotagede. Dipandu Ahli sejarah Kotagede sekaligus Filantrophis lokal Nasir, peserta dikenalkan sejumlah bangunan tua yang memiliki sumbu filosofi agung. Mereka dikenalkan asal muasal Kotagede. "Sebelum 1952 wilayah ini merupakan bagian dari Kasunanan. Semula, Kotagede adalah nama sebuah kota yang merupakan Ibukota Kesultanan Mataram. Selanjutnya kerajaan itu terpecah menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta," ucap Nasir saat menjelaskan rentetan sejarah Kotagede kepada peserta Raker Komwil III Apeksi. Usai mendalami asal muasal Kotagede beserta memahami arsitektur rumah yang berada di sekitaran ndalem sopingen, peserta pun diajak menyusur ke sebelah timur. Disanalah para peserta dikenalkan dengan beberapa bangunan tua, seperti bekas pabrik kain yang pernah tersohor tempo delu. Tak jauh dari lokasi bekas pabrik kain, peserta pun diajak melewati Masji Perak yang memiliki keunikan sekaligus menjadi salah satu ikon religi baru-baru ini. Bergerak ke arah selatan, Peserta diajak untuk flasback mengingat tragedi gempa bumi yang terjadi pada 2016 silam. "Saat itu, di lokasi ini sangat mencekam. Semua bangunan ini mengalami kerusakan akibat bencana gempa bumi kala itu," jelas Nasir. Setelah menyusuri perjalanan yang agak panjang, peserta pun bergeser ke pasar paling bersejarah yakni pasar legi Kotagede. Tak tanggung-tanggung peserta pun diajak masuk pasar yang pernah diinisiasi sultan agung tersebut. Pasar Kotagede dulunya dikenal dengan nama Pasar Gede atau Sargede yang merupakan pasar tradisional yang dibangun pada masa Panembahan Senopati. Keramaian Pasar Gede masih bisa dirasakan ketika penanggalan Jawa menunjukkan pasaran Legi. Sehingga sekarang lebih dikenal sebagai Pasar Legi Kotagede. Pasar ini sudah ada sejak zaman kerajaan mataram pada abad ke-16 dan termasuk pasar tertua di Yogyakarta. Pasar ini dapat menggambarkan bahwa dulunya masyarakat sekitar Kotagede banyak yang berprofesi sebagai pedagang dan perajin. Usai dari pasar legi Kotagede, peserta pun napak tilas ke Masjid Mataram Kotagede sekaligus menilik makam-makam para raja yang tepat berada bersebelahan di Masjid Mataram Kotagede. "Masjid Agung Kotagede dibangun pada zaman kerajaan Mataram pada tahun 1640 oleh Sultan Agung bergotong-royong dengan masyarakat setempat yang pada umumnya waktu itu beragama Hindu dan Budha.," Kata Nasir. Masjid Kotagede Yogyakarta sudah berusia ratusan tahun memiliki sebuah prasasti yang menyebutkan bahwa Masjid tersebut dibuat dalam dua tahap. Tahap pertama dibangun pada masa Sultan Agung yang berhasil membangun inti masjid yang berukuran kecil yang disebut langgar. Tahap kedua masjid ini dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Di Masjid tertua se-Yogyakarta inilah para Peserta Rakermowil III Apeksi 2018 mengakhiri blusukan sejarahnya. Mereka pun berksempatan untuk merasakan suasan Sholat Jum"at di Masjid Kotagede. (Tam)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Peserta Raker Komwil III Apeksi Jelajah Taman Sari
Sebagai rangkaian dari perhelatan Raker Komwil III Apeksi, peserta diajak untuk mengunjungi salah satu peninggalan bersejarah yang ada di Kota Yogyakarta, yaitu komplek Taman Sari. Visitasi yang dilaksanakan sore hari usai acara rapat (19/4) ini mengajak peserta untuk menjelajahi sekaligus mempelajari sejarah situs yang dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubowono I ini. Wakil Walikota Solo, Ahmad Purnomo yang turut dalam rombongan mengaku kagum dengan Taman Sari. Ahmad mengaku Yogyakarta dan Solo sama-sama memiliki Kraton sehingga keduanya memiliki perhatian terhadap keberadaan cagar budaya. "Menurut saya Taman Sari luar biasa indah dan memberikan kenangan. Ini harus menjadi perhatian kita semua untuk terus melestarikan cagar budaya seperti ini, apalagi Jogja dan Solo memiliki kemiripan karena sama-sama memiliki Kraton" Lebih lanjut, Ahmad juga mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Yogyakarta dan warga sekitar Taman Sari yang memperhatikan dan melestarikan keberadaan Taman Sari. "Saya salut kepada upaya Pemerintah Kota Yogyakarta yang bersama-sama penduduk sekitar untuk terus memperhatikan dan merawat Taman Sari. Taman Sari mampu menghidupi sekaligus diihudupi oleh penduduk yang berada di sekitarnya" Tutur Ahmad. Selain Ahmad, turut hadir Kepala Bagian Pemerintahan dan kerjasama Kota Tegal, Ilham Prasetyo. Tak beda dengan Ahmad, Ilham juga mengagumi Taman Sari "Ini pertama kalinya saya ke Taman Sari. Biasanya kalau ke Jogja tidak sempat mengunjungi karena pasti datang untuk bekerja. Saya kagum kejernihan air di Taman Sari" Ungkapnya. Selain menjelajahi Taman Sari, Rombongan juga berkesempatan untuk melukis di atas kaos dengan dipandu oleh Sanggar Kalpika. Hasil karya para peserta tersebut nantinya akan disempurnakan oleh Sanggar Kalpika dan dijadikan souvenir bagi peserta. Seusai menjelajah Taman Sari, rombongan beranjak ke Kampung Cyber Taman Sari. Di sana, selain dijamu aneka Jajanan pasar dan minuman herbal khas Yogyakarta, peserta juga diajak untuk mengenal konsep Kampung Cyber yang ada di Taman Sari. "Di sini, semua terkoneksi dengan internet, ini bertujuan untuk mempermudah koordinasi sehingga warga tidak harus repot-repot datang ke Ketua RT dan RW untuk membuat surat pengantar, tapi menggunakan aplikasi web, nanti surat pengantar akan dibuat di Kelurahan" Ungkap Antonius Sasongko atau akrab dipanggil Koko, selaku Ketua RT 36 Kampung Cyber. Walau demikian, Koko menuturkan, interaksi sosial di Kampung Cyber masih terjaga dengan baik. Setiap sore, warga Kampung Cyber dari anak-anak sampai orang tua masih rutin untuk berkumpul di lapangan voli untuk berinteraksi secara langsung. Wakil Walikota menambahkan, konsep yang diterapkan di Kampung Cyber ini nantinya akan diterapkan di seluruh Kelurahan di Kota Yogakarta "Saat ini sedang digodok oleh Bappeda Kota Yogyakarta, targetnya tahun 2018 bisa diterapkan di semua Keluarahan di Kota Yogyakarta" Imbuh Heroe. (ams)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Jadi Tuan Rumah Raker Komwil Apeksi, Jogja Kenalkan Ragam Budaya
Kota Yogyakarta ketiban gawesebagai tuan rumah perhelatan Rapat Kerja Komisariat Wilayah (Raker Komwil) III Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), tak hanya menggelar seremonial rapat saja, namun sebagai Tuan Rumah, Pemerintah Kota Yogyakarta juga berupaya membawa peserta Raker Komwil III yang terdiri dri 25 pimpinan daerah untuk mengenal lebih dalam lagi khazanah budaya Kota Yogyakarta Di antaranya adalah Batik Ceplok Segoro Amarto yang pada malam penyambutan digunakan oleh seluruh peserta. Panitia pelaksana sengaja mengirimkan kain batik ikon Jogja tersebut kepada seluruh peserta sebagai seragam pada perhelatan tersebut. Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menjelaskan, batik Ceplok Segoro Amarto memiliki makna filosofis untuk menjaga wibawa dan menjunjung tinggi derajat manusia yang tergambar dalam motif parang dan kawung. "Parangyang berarti tinggi derajatnya dan Kawung bermakna kehidupan yang harmonis dan menjaga keseimbangan alam" Tutur Walikota. Walikota menuturkan, batik motif Ceplok Segoro Amarto Diciptakan untuk mendukung dan memperkuat semangat gotong royong warga Yogyakarta. Juga sebagai simbol ajakan pada masyarakat Indonesia untuk bisa menggelorakan kembali semangat gotong royong. Selain batik, Pemerintah Kota Yogyakarta selaku panitia pelaksana juga memperkenalkan aneka kuliner khas Jogja yang ngangeni seperti wedang ronde, mi jawa, dan nasi gudeg. Sementara, ketika acara berlangsung, Panitia juga menyusun Program Keputren bagi pendamping peserta Raker Komwil Apeksi untuk mengunjungi Kawasan Puro Pakualaman. Di sana mereka berdialog dengan Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam membahas sejarah Kadipaten Pakualaman dan diajak untuk melihat-lihat koleksi batik Pakualaman. Selepas raker, peserta diajak untuk mengunjungi situs peninggalan sejarah, komplek Taman Sari. Di sana peserta menjelajah sekaligus mempelajari sejarah situs yang dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I. Pada hari terakhir, rombongan melakukan napak tilas kawasan warisan sejarah Kerajaan Mataram Islam, Kotagede. Peserta akan menjelajah lorong-lorong kampung yang terkenal akan hidangan kipo-nya ini dan melakukan sholat Jum"at di masjid bersejarah, Masjid Gedhe Kotagede. (Tim Apeksi)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Apeksi Selenggarakan Program Keputren
Salah satu rangkaian kegiatan Rapat Kerja Komisiariat Wilayah (Komwil) III Asosiasi (Apeksi) yang diselenggarakan pada hari Kamis (19/4), Pemerintah Kota Yogyakarta selaku Panitia pelaksana juga menyelenggarakan Program Keputren yang diperuntukkan bagi Ibu-ibu pendamping peserta Raker Komwil III Apeksi. Program ini sendiri dilaksanakan di Pura Pakualaman Yogyakarta Dengan didampingi oleh Istri Walikota Yogyakarta, Tri Kirana Muslidatun atau yang akrab dipanggil Ana Haryadi, peserta diajak untuk untuk bertemu langsung dengan Istri Sri Paduka Paku Alam X yaitu Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (G.K.B.R.Ay.A) Paku Alam. Saat bertemu dengan G.K.B.R.Ay.A Paku Alam, peserta disambut dengan hangat, selanjutnya mereka berdiskusi mengenai sejarah panjang Kadipaten Pakualaman serta melihat koleksi batik yang dibuat oleh G.K.B.R.Ay.A Paku Alam yang di pajang di suatu ruangan yang ada di dalam Pura Pakualaman. "Batik ini khas Pura Pakualaman dari naskah-naskah kuno di Pakualaman Astabrata ajaran kepemimpinan melalui Batara" ucapnya. Seusai diskusi dengan G.K.B.R.Ay.A Pakjualam, Tri Kirana mengajak para rombongan untuk berkunjung di suatu tempat untuk berbelanja batik khas Yogyakarta yang sudah terkenal di batik Gee. Sesampainya disana, rombongan berbelanja dan dilanjutkan perjalanan ke sebuah cafe yang cukup terkenal, terutama di sosial media, yakni Honje Cafe yang dimana cafe Honje Cafe memiliki keunikan tersendiri yaitu menyuguhkan pemandangan yang mengarah ke Tugu yaitu ikon Yogyakarta. Setelah mengikuti perjalanan yang sudah di rancang oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Jamuan malam dilaksanakan di Bale Raos Jl.Magangan Kulon No. 1 Kraton Yogyakarta. (Hes)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Menggelar Peringatan Hari Kartini di Grha Pandawa
Dalam memperingati serta mengenang salah satu pahlawan nasional RA Kartini, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) menggelar Peringatan Hari Kartini di Grha Pandawa, jumat (20/4). Acara ini dihadiri oleh Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti, Istri Walikota Tri Kirana Muslidatun serta Istri Wakil Walikota Poerwati Soetji Rahajoe. Para peserta menggunakan pakaian khas jawa yaitu Kebaya agar nuansa Kartini semakin kental dalam acara Peringatan Hari Kartini. Pada sambutan yang di berikan oleh Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan, atas perjuangan RA Kartini itulah, kini perempuan tidak hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga tetapi juga ikut berpartisipasi dalam memberi warna kehidupan di masyarakat. "kini perempuan tidak hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga saja tetapi, juga ikut berpartisipasi dalam kontek sekecil apapun dengan membangun tatanan masyarakat. semoga kaum wanita semakin mandiri dalam berbagai kegiatan pembangunan dan sosial"ucapnya Disamping itu Haryadi Suyuti menambahkan, saat ini banyak kaum wanita meraih pendidikan tinggi, mempunyai kedudukan serta kemandirian secara ekonomi, tetap jadikanlah keluarga sebagai prioritas utama. "meskipun saat ini banyak kaum wanita meraih pendidikan tinggi, mempunyai kedudukan serta kemandirian secara ekonomi, tetap jadikanlah keluarga sebagai prioritas utama dan pertama karena keluarga adalah harta terindah yang tidak akan ternilai oleh besarnya materi" Ucapnya. Acara ini bertujuan untuk apresiasi terhadap kiprah yang ditunjukkan Kartini-Kartini Pemerintah Kota Yogyakarta yang bekerjasama dengan Gabungan Organisasi Wanita beserta lembaga lainnya yang tetap konsisten dalam melaksanakan program-programnya guna memberdayakan keluarga dan masyarakat Kota Yogyakarta. Haryadi Suyuti berharap, semoga kaum wanita Kota Yogyakarta semakin mandiri, berdaya, organisasi-organisasi wanita di Kota Yogyakarta semakin eksis, ibu-ibu, keluarga dan masyarakat semakin sejahtera. Istimewa kotanya, istimewa organisasi-organisasi wanitanya, istimewa pula para wanitanya. (Hes)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Kecamatan Tegalrejo Terima 62 Mahasiswa KKN Universitas Janabadra
Suasana di Ruang Pepiling Lantai 2 Kecamatan Tegalrejo pada Hari Senin (16/4) riuh rendah oleh canda tawa para mahasiswa dan bincang santai beberapa dosen. Hari itu merupakan Hari Penerimaan Mahasiswa Peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Janabadra (UJB) Semester Genap Tahun Akademik 2017/2018. Menurut Staf Lembaga Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M) Universitas Janabadra, Pitoyo, sejumlah 62 orang mahasiswa mengikuti KKN di wilayah Kecamatan Tegalrejo. "Mahasiswa yang mengikuti KKN Semester Genap TA 2017/2018 di kecamatan Tegalrejo berjumlah 62 orang dengan beragam disiplin ilmu. Ada yang dari Fakultas Ekonomi, Teknik, Hukum, dan Pertanian. Mereka terbagi dalam 6 kelompok di mana masing-masing kelompok terdiri dari 10-11 orang," kata Pitoyo. Mahasiswa peserta KKN berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada satu orang yang berasal dari Timor Leste. Lurah Tegalrejo, Ilasari Tjahayani Dewi, menuturkan, seluruh mahasiswa KKN dari UJB akan ditempatkan di wilayah Kelurahan Tegalrejo. "Semua mahasiswa KKN UJB akan kami tempatkan di wilayah Kelurahan Tegalrejo, di mana masing-masing kelompok akan mengampu 2 RW, mulai dari RW 01 hingga RW 12, sehingga nantinya akan ada pemerataan hasil KKN mahasiswa UJB ini," ujar Ilasari. Dalam sambutannya, Camat Tegalrejo, Sutini Sri Lestari, menyampaikan, setelah mahasiswa menyelesaikan studinya, ilmu yang diperoleh harus diterapkan di masyarakat. "Mahasiswa, saat terjun langsung ke masyarakat, akan belajar banyak bagaimana menerapkan ilmu yang diperolehnya. Dengan KKN ini, panjenengan (Anda-red) akan berinteraksi dan belajar bersosialisasi, berkomunikasi langsung dengan warga. Selain itu, belajar memahami kebutuhan dan keinginan masyarakat," terang Camat Sutini. Salah satu dosen pembimbing lapangan (DPL), Sri Suwarni, menambahkan, mahasiswa KKN UJB TA 2017/2018 akan berada di Kelurahan Tegalrejo hingga 30 Mei 2018. "Secara keseluruhan, sebenarnya ada 8 kelompok KKN UJB TA 2017/2018. Namun, yang 2 kelompok lain ditempatkan di wilayah Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo, tempat pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD)," jelasnya. (Kurniawan Sapta Margana/Kecamatan Tegalrejo)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Pasar Wutah Setu Pahingan Wiratama Tegalrejo Tahun Ketiga
Bertepatan dengan hari kelahiran (weton) Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Sabtu Pahing (Setu Pahing), Pasar Wutah digelar di sepanjang Jalan Wiratama, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo. Memasuki tahun ketiga, Pasar Wutah konsisten menghadirkan nuansa pasar tradisional berikut komoditas lokal Tegalrejo. Sebenarnya, Pasar Wutah lazim digelar di daerah perdesaan. Konon, pada zaman HB IX, Pasar Wutah sering kali ada, setiap Sabtu Pahing. Kini, Pasar Wutah Setu Pahingan berhasil menarik minat warga Kota Yogyakarta, khususnya Tegalrejo. Sabtu (7/4) sore yang lalu, meski sempat diguyur hujan, namun antusiasme masyarakat sekitar untuk meramaikan acara masih tinggi. Terbukti dengan banyaknya stand maupun warga yang berbelanja di Pasar Wutah. Tampak para ibu Dasawisma Kampung Demakan turut berjualan. Selain itu, sejumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Demakan Tegalrejo juga berpartisipasi. Menariknya, pengunjung dimanjakan dengan bermacam kuliner, mulai menu lawasan hingga zaman sekarang. Menurut Sekretaris Panitia Pasar Wutah Setu Pahingan, Aninda Alfianita, yang juga merupakan salah satu pengurus kelompok Pemuda Harapan Pemudi Demakan Lama Tegalrejo, Pasar Wutah diadakan sebagai bentuk tombo kangen" terhadap suasana pasar yang ramai dan riuh rendah dengan suara canda, serta menciptakan suasana akrab antara mbok bakul dan pembeli. "Kami mengadakan acara ini sengaja di penggal Jalan Wiratama dikarenakan agar masyarakat merasakan suasana kemacetan, riuh rendahnya suasana Pasar Wutah yang mungkin lama tidak dirasakan oleh banyak orang. Selain itu, suasana yang terbangun antara pembeli dan penjual yang selama ini ada di pasar tradisional, kami coba bangun di Pasar Wutah Setu Pahingan ini," kata Aninda. Pasar Wutah, lanjutnya, dapat bersaing dengan era masyarakat kekinian yang cenderung memilih makanan siap saji serta lebih akrab berbelanja di pasar modern. Faktor ini menjadi salah satu latar belakang pemunculan kembali tradisi lama yang memang baik dan layak dipertahankan. Dalam sambutannya, Ketua RW 07 Tegalrejo, Djasmanto, mengapresiasi program tahunan Pemuda-Pemudi Kampung Demakan. "Saya selaku Pengurus RW mengucapkan terima kasih atas apa yang telah dilakukan Pemuda-Pemudi Kampung Demakan dengan mengadakan acara seperti ini. Kami akan mendukung setiap acara positif yang digerakkan oleh Pemuda-Pemudi Kampung Demakan. Semoga acara Pasar Wutah Setu Pahingan ini akan tetap diadakan setiap tahunnya," harap Djasmanto. Pasar Wutah berlangsung hingga pukul 21.00. Acara diramaikan electone tunggal sebagai penghibur pengunjung yang berbelanja. Ada pula, lomba dance Lansia. (Kurniawan Sapta Margana/Kecamatan Tegalrejo)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Terjunkan 170 petugas, Pemotongan Hewan Kurban di RPH Giwangan Gratis
Jelang Idul Adha 1439 Rumah Pemotongan Hewan Giwangan telah menyiapkan 170 petugas gabungan dari Dinas Pertanian dan Pangan serta Fakultas Kedokteran Hewan UGM untuk memeriksa daging hewan kurban saat hari penyembelihan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto memastikan pemotongan hewan qurban di RPH Giwangan tidak dipungut biaya alias gratis. "Bagi panitia qurban yang sudah mendaftarkan untuk memotong hewan qurban di RPH Giwangan tidak dikenakan tarif retribusi pemotongan hewan," kata Sugeng. Bahkan pihaknya telah menyiapkan tiga kendaraan angkutan daging untuk membawa daging qurban ke tempat wilayah di Kota Yogyakarta secara gratis. "Pendaftaran hewan qurban oleh panitia kami layani pada hari kerja minimal 12 jam sebelum pemotongan di posko idul qurban RPH Giwangan," jelasnya. Untuk memastikan proses pemotongan berjalan sesuai dengan standart yang telah ditentukan, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga telah membentuk tim untuk memantau dan mengawasi hewan qurban mulai dari pasar tiban, kandang hingga lokasi pemotongan. "Tim tersebut akan memantau dan memeriksa hewan sejak sepuluh hari sebelum hari Raya Idul Adha. Satau hari sebelum pemotongan dan pada hari pemotongan qurban, sejak 10 sampai 13 dzulhijjah 1439 H," urainya. Ia menjelaskan petugas akan memberikan label yang dikalungkan ke leher hewan jika hewan kurban tersebut dinyatakan dalam kondisi sehat dan layak. Namun jika tidak layak, katanya, maka petugas akan meminta pedagang untuk segera memeriksakan hewan dan memisahkan hewan tersebut dari hewan lain untuk menghindari risiko penularan penyakit Kepada para pedagang yang mendatangkan hewan dari luar kota, Ia meminta agar para pedagang tersebut meminta surat keterangan kesehatan hewan guna memastikan bahwa hewan tersebut sehat saat masuk ke Kota Yogyakarta. Sementara itu terkait penanganan pasca penyembelihan, Sugeng mengaku telah menyiapkan lima kelompok kerja mitra Dinas Pertanian dan Pangan yang bertugas membantu proses pengulitan sampai pembelahan karkas, pembersihan jeroan dan pembersihan kotoran. (Tam)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Kemendikbud dan Pemkot Gelar Karya Kursus, Pelatihan dan Job Fair 2018
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Pemerintah Kota Yogyakarta menyelenggarakan Gelar Karya Kursus dan Pelatihan, serta Bursa Kerja (Job Fair) selama dua hari, 11-12 Agustus 2018 di Jogja Expo Center, Yogyakarta. Gelar Karya Kursus dan Pelatihan tahun ini mengangkat tema -Menguatkan Kursus dan Pelatihan dalam Menyiapkan SDM yang Kompeten, Berkarakter, dan Berdaya Saing-. Dalam persaingan global, peranan sertifikasi kompetensi sangat penting sebagai bukti otentik atas kompetensi kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Berbagai upaya harus diupayakan untuk menyiapakan Sumber Daya Manusia yang handal, salah satunya melalui penguatan Pendidikan Non Formal. Keberadaan pendidikan Non-formal dalam bentuk Lembaga Kursus dan Pelatihan memiliki peran penting dalam menjawab tantangan kesenjangan antara kompetensi lulusan dari pendidikan formal dan kebutuhan Dunia Usaha Dunia Induatri (DUDI). Selain itu, Pendidikan nonformal adalah salah satu bentuk layanan pendidikan yang bertujuan sebagai pengganti, penambah, dan pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan acara ini digelar untuk memberikan informasi kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan berkarakter. "Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Kota Yogyakarta yang telah berkenan bekerja sama menyelenggarakan Gelar Karya Kursus dan Pelatihan sebagai upaya kita memberikan informasi kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan SDM yang kompeten dan berkarakter," ungkapnya. Pemilihan tema tersebut menurut Muhadjir, adalah dalam rangka mendorong peran pendidikan vokasi melalui kursus dan pelatihan untuk menyiapkan SDM yang kompeten dan berkarakter. Rangkaian acara yang dilaksanakan selama dua hari tersebut menggelar enam kegiatan, yakni Pameran Kursus dan Pelatihan, terdiri dari 80 stand, 40 stand dari pusat dan 40 stand dari Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Ada juga dari bidang kesehatan (pijat refleksi, akupunktur), kecantikan (tatakecantikan modifikasi, tata rias pengantin, spa), tata boga, dan perikanan/pertanian (pengolahan makanan). Selain itu, juga diselenggarakan bursa kerja/job fair, dengan peserta dari lembaga penyalur kerja Indonesia otomotif mobil (New Armada), otomotif motor (Otomotive Royal Semarang), jasa (Grand Artos Hotel, Ambarukmo Hotel), manufaktur (Panarub Garment Brebes, Sritex Solo), ritel, dan makanan ringan (Keivit Salatiga). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, beserta Lembaga Kursus dan Pelatihan, Dunia Usaha dan Industri, Organisasi Mitra, Lembaga Sertifikasi Kompetensi, peserta didik kursus dan tentunya masyarakat peduli pendidikan Yogayakarta. Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan melihat antusiasme dan animo masyarakat yang begitu besar, kami berharap kerja sama ini tidak hanya berhenti pada penyelenggaraan pameran, namun kedepan dapat terus dilanjutkan. "dengan melihat antusiasme dan animo masyarakat yang begitu besar, kami berharap kerja sama ini tidak hanya berhenti pada penyelenggaraan pameran, namun kedepan dapat terus dilanjutkan demi peningkatan kualitas pendidikan di Yogyakarta"ungkapnya. Heroe Poerwadi mengatakan tahun -tahunselanjutnya kami senantiasa dapat meningkatkan kualitas maupun kuantitas penyelenggaraan. "mudah-mudahan pada penyelenggaraan tahun-tahun selanjutnya kami senantiasa dapat meningkatkan kualitas maupun kuantitas penyelenggaraan" ungkapnya. Peserta pameran dari berbagai bidang keterampilan, yakni, otomotif (mobil dan motor), komputer/IT (animasi, desain grafis, robotik), elektronik (teknisi HP/TV, teknisi AC), menjahit/kerumahtanggaan (tata busana, garmen/border digital), pariwisata (perhotelan, pramugari/cargo staf), bahasa (bahasa Korea). (Hes)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Walikota Yogyakarta Menghadiri Rencana Aksi Daerah TPB DIY di Kompleks Kepatihan, Yogya
Rencana Aksi Daerah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) DIY Tahun 2018 " 2022 resmi diluncurkan, Senin (13/08) di Gedhong Pracimosono, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Dalam Penyusunannya diadakan RAD di DIY merupakan kota kedua yang dicanangkan komitmen setelah Riau. Acara ini mengunggah tema "Dengan semangat Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh, dan Mboten wonten ingkang dipun lirwakaken kita sukseskan upaya pencapaian tujuan-tujuan TPB DIY 2018-2022". Kegiatan ini di hadiri oleh Kepala Bappeda DIY Tavip Agus Rayanto, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, beserta pihak yang terkait, dalam laporannya menyampaikan, 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang dituangkan RAD daerah TPB DIY telah melewati proses sesuai prinsip-prinsip partisipatif, inklusif, responsive, dan no one left behind. Tavip Agus Rayanto menyampaikan, TPB merupakan komitmen semua pihak untuk kemajuan pembangunan yang berkelanjutan dan penyempurnaan Millenium Development Goals. "Dimana Suistanable Development Goals dilakukan secara lebih komprehensif, inklusif, zero goals dan memperluaskan sumber pendanaan," jelas Tavip. Tavip Agus, RAD TPB DIY menambahkan terdapat keselarasan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DIY 2017-2022 yang secara implisit meliputi isu pencemaran lingkungan, isu ketimpangan wilayah, dan isu angka kemiskinan. "Selain itu juga meliputi belum optimalnya pengendalian pemanfaatan ruang dan tingginya alih fungsi lahan pertanian dan belum optimalnya penyediaan infrastruktur strategis di kawasan pesisir selatan DIY," imbuhnya. TPB saat ini masih dipandang sebagai milik pemerintah yang belum menjadi milik semua dan dipandang sebagai agenda internasional, bukan nasional dan daerah. SDGs hanya dipersepsikan sebagai pekerjaan birokrasi bukan politisi. Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya berharap, 17 tujuan SDGs tidak akan menjadi persoalan bagi OPD Pemda maupun Pemkot/kabupaten se-DIY. Hanya dalam menyusun program tahunan SDGs-nya untuk dimasukkan menjadi prioritas dari di dalam program RKP masing-masing dinas. "Jadi ini bukan pekerjaan tambahan. Sekarang sudah tidak bisa, kita sebagai pelayanan masyarakat apapun tujuan yang dicapai merupakan kewajiban yang harus kita lakukan. Jadi dimohon setiap rancangan RKP-nya masalah 17 sasaran menjadi prioritas," ucap Gubernur DIY. Ngarsa Dalem juga mengingatkan bagi para bupati dan walikota se-DIY bisa mengarahkan program-program ini tidak overlapping dengan program pemerintah pusat. "Jadi dimohon Bappeda pusat dengan Bappeda kabupaten/kota berunding. Karena anggaran di pusat tema, sementara di kabupaten sub-tema. Jadi apa yang harus dilakukan oleh dinas kabupaten/kota bisa dirundingkan. Jangan nanti double pembiayaan. Mohon kesepakatan ini bisa dilaksanakan dengan baik dan bisa berjalan efektif," harap Sri Sultan. Setelah sambutan, dilanjutkan penandatanganan komitmen bersama untuk menjalankan asistensi, pemantauan, evaluasi RAD TPB dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. (Hes)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Heroe Poerwadi Di Lantik Sebagai Kwarcab Kota Yogya
Gerakan Pramuka tak hanya mampu menumbuhkan jiwa sosial, kebersamaan, dan kesetiakawanan. Pramuka menjadi wadah pendidikan bagi anak-anak untuk mandiri dan bekreasi. Untuk itulah, Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Kmabicab) Pramuka Kota Yogya, Haryadi Suyuti meminta seluruh pengurus Kwarcab Kota Yogya membuat kreasi gerakan baru. Terutama yang mengedepankan life skill bagi pesertanya. "Harus menciptakan kreasi baru. Meski, kegiatan Pramuka sangat banyak," ujarnya di sela pelantikan pengurus Gerakan Pramuka Kota Yogya, Senin malam (13/8) di ruang Bima kompleks balaikota Yogyakarta. Selain itu, lanjutnya, gerakan Pramuka juga dapat mengeratkan kebhinekaan. Dengan pembinaan-pembinaan yang positif Pramuka tentu generasi muda tidak akan terpengaruh dari paham-paham negatif yang dapat merusak tatanan dan keharmonisan bangsa. "Kita tahu bahwa negara kita adalah negara yg majemuk. Keberagaman itu membutuhkan upaya menjalin kebersamaan dan keeratan dalam naungan Pancasila," katanya. Ia menerangkan dengan adanya kreasi baru akan lebih baik dalam membangun karakter bangsa. Sebab, gerakan Pramuka selama ini, memang memiliki peran dalam pembangunan karakter terhadap generasi penerus bangsa. Pada pelantikan pengurus Kwarcab ini, Walikota Yogyakarta melantik Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi sebagai Ketua Kwarcab Pramuka Kota Yogya. "Saya berpesan kepada ketua kwarcab yang dilantik untuk dapat menjaga amanah yang diberikan saat ini, agar terus memajukan gerakan Pramuka dan memberikan sumbangsihnya kepada Kota Yogya," ujarnya. Sementara itu di jumpai usai pelantikan selaku Ketua Kwarcab Pramuka Kota Yogya, Heroe Poerwadi mengaku siap untuk mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membangun kepramukaan. Terlebih, Pramuka memiliki peran besar dalam membangun karakter generasi penerus. "Dengan begitu maka penanaman nilai atau karakter yang diwujudkan dalam kegiatan kepramukaan dapat lebih optimal. Kerja sama yang kuat merupakan pondasi dari kesuksesan sebuah pembangunan," terangnya. (Han)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Kebersamaan Jelang Panen Raya Warga Rejowinangun
Meski terbatasnya lahan kosong di Kota Yogya ternyata tak menyurutkan semangat warga Kota Yogyakarta untuk bertani, semangat ini ditunjukkan oleh Warga Kelurahan Rejowinangun, Kecamatan Kotagede Kota Yogya. Hari ini, Selasa (14/8) mereka melakukan Panen Raya yang berupa padi dengan varietas IR64 dan 100 Kg lele lokal. Keberhasilan warga Rejowinangun menyulap lahan seluas 1700m2 ini tentunya tidak lepas dari usaha, kreatifitas, sekaligus kejelian dari warga Rejowinangun dalam melihat peluang untuk mengembangkan lahan diwilayahnya. Tak sampai disitu merekapun selalu menghidupkan kembali tradisi wiwitan yang merupakan sebuah upacara adat untuk mengawali masa panen padi. Tradisi di kalangan petani ini sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu. Tetapi, karena perkembangan zaman, tradisi tersebut semakin ditinggalkan. Kegiatan upacara adat tersebut diawali dengan kirab oleh warga yang mengenakan pakaian tradisional lengkap dan membawa berbagai gunungan dari hasil bumi seperti buah-buahan dan sayur. Setelah dilakukan doa bersama, kegiatan panen pun dilakukan. Prosesi ini ditutup dengan seluruh warga menyantap nasi lengkap dengan lauk ayam kampung yang sudah disajikan di wadah dari daun pisang. Dalam acara tersebut dihadiri oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi. Ia mengungkapkan jika pihaknya sangat mengapresiasi panen raya dikawasan kampung agro Rejowinangun, menurutnya dengan adanya persawahan dikawasan perkotaan merupakan suatu hal yang langka dan patut untuk kita disyukuri. "Dengan kegiatan panen raya ini menjadi bukti bahwa dengan keterbatasan lahan di Kota Yogya, budidaya tanaman buah-buahan, perikanan ternyata masih tetap bisa diakukan" katanya dilokasi. Menurutnya prospek untuk pengembangan ekonomi melalui hasil pertanian ini cukup besar mengingat gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi buah, ikan dan sayur saat ini juga mulai akrab dan membudaya di tengah-tengah masyarakat kita. "Apalagi, hasil produk pertanian merupakan komiditas yang tidak akan lekang oleh waktu, sehingga sampai kapanpun manusia akan senantiasa membutuhkan supply pangan guna mencukupi kebutuhan hidupnya" ujarnya Ia berharap hasil panen tersebut juga dapat mengangkat ekonomi warga Rejowinangun. "Semoga dari hasil panen ini dapat menumbuhkan semangat gotong-royong, kebersamaan, kemandirian, dan kemampuan untuk menginspirasi wilayah lain untuk mencapai keberhasilan sehingga seluruh warga Rejowonangun dan Kota Yogyakarta mampu mencicipi manisnya kesejahteraan dan kemakmuran." ungkapnya. (Han)
Senin 00/00/0000 00:00 WIB | oleh Warta
Bintaran Deklarasi Kampung Bebas Asap Rokok
Warga Kampung Bintaran Kecamatan Mergangsan Yogyakarta mendeklarasikan sebagai kampung bebas asap rokok, ahad (12/8) pagi, yaitu memberikan aturan kepada perokok agar tidak merokok di sembarang tempat. Koordinator Kampung Bintaran Bebas Asap Rokok Andi Maulana mengatakan, deklarasi kampung bebas asap rokok tersebut merupakan kesepakatan warga. "Warga sepakat untuk tidak merokok di dalam rumah dan pertemuan," tandasnya. Kampung Tanpa Asap Rokok ini memberlakukan kebijakan larangan yang membatasi para perokok untuk tidak merokok di tempat umum. Nantinya juga akan disediakan kawasan khusus untuk para perokok. "Setelah deklarasi ini, kami sudah berencana untuk menyediakan kawasan khusus bagi para perokok," jelas ketua RW Menurut dia, deklarasi kampung bebas asap rokok tersebut bukan berarti melarang orang untuk merokok, namun membatasi aktivitas merokok yaitu hanya di tempat yang telah disediakan. "Ada aturan-aturan tertentu yang harus diperhatikan oleh warga saat akan merokok. Kami ingin membangun kesadaran agar warga bisa saling menghargai," imbuhnya. Ia meengatakan tujuan utama dari pembentukan kawasan bebas asap rokok adalah menurunkan angka perokok pemula yang masih cukup tinggi. Lokasi-lokasi yang dilarang untuk merokok di antaranya di dalam rumah, di tempat ibadah, di dalam kendaraan. "Yang terpenting adalah melindungi generasi muda agar tidak menjadi perokok karena biasanya mereka menjadi perokok karena kondisi lingkungannya," imbuhnya. Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyambut baik deklarasi kampung Bintararan sebagai kampung bebas asap rokok. Ia mengapresiasi hal tersebut lantaran semua RW di bintaran adalah perokok. "Perokok tapi sadar bahwa rokok berbahaya adalah sesuatu yang luar biasa dan patut diapresiasi," kata Heroe Poerwadi usai deklarasi kampung bebas asap rokok di Bintaran. Ia optimistis warganya akan semakin menyadari bahaya merokok karena proses sosialisasi di masyarakat tentang pembentukan RW bebas asap rokok tersebut semakin mudah. "Banyak warga yang sudah mengetahui dampak buruk merokok. Pekerjaan ini tidak mudah, namun harus tetap dilakukan," katanya. Kawasan tanpa rokok, Ia melanjutkan, itu tidak hanya melarang orang untuk merokok saja, namun juga pada kawasan tersebut dilarang untuk memasang iklan rokok. Heroe menambahkan, Pemkot telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Dengan itu, pihaknya yakin KTR di Kota Yogyakarta sangat mungkin dilakukan. Substansi perda tersebut adalah melarang orang untuk merokok di kawasan tanpa rokok. "Bagi para pelanggar akan dikenai sanksi berupa pidana kurungan selama maksimal satu bulan dan denda maksimal Rp 7,5 juta," pungkasnya. (Tam)